Articles > Hari Ini 32 Tahun Yang Lalu

Hari Ini 32 Tahun Yang Lalu

Jakarta, 11 Oktober 2008

Hari ini tepat 11 Oktober 2008, hari dimana saya kembali mengulang hari-hari hidup saya dengan warna, penuh rona dari mulai kesedihan sampai tentang kebahagiaan hidup, mulai merangkak dari kepahitan yang terdalam sampai kesenangan yang sedikit demi sedikit mulai menyapa kehidupan saya.

Dulu mungkin apa yang terjadi dan sedang saya jalani adalah mimpi saya tiap hari yang selalu menggelayut dalam hati, bayangan yang selalu menempel di pelupuk mata, namun segala puji bagi-Nya kini menjadi sebuah nyata dan kenikmatan hari-hari saya yang menjadi menu tak pernah habis unuk dijalani.

Dulu bertemu orang-orang yang sangat terkenal dan penting di negeri ini hanya menjadi impian yang jauh, yang hanya bisa mengagumi mereka dengan hanya bergumam di hati, namun kini semua orang yang selama ini hanya terbayang dan hanya bisa diimpikan tersebut datang bahkan kita sudah duduk sejajar membicarakan tentang hidup kemudian berbicara tentang apa pun yang membuat semuanya terasa sangat menyatu.

Dulu orang yang melihat hanya memandang sebelah mata, membuat sebuah underestimate tersendiri yang membuat saya semakin terkucil oleh situasi yang juga pada saat tersebut keadaan tidak terlalu berpihak pada saya, namun itu semua kini berubah total orang selalu berusaha menyapa ketika bertemu sebuah pengalaman indah sambil berharap situasi seperti ini mudah-mudahan merupakan bagian dari ketulusan mereka semua untuk menegur kemudian menyapa.

Dulu betapa sulit untuk meyakini orang dengan peluh bahkan kadang dengan air mata, namun semua itu sirna hanya dengan sebuah senyuman kini seluruh urusan dan keperluan bisa langsung di dapat sebuah karunia yang sampai sekarang masih sulit untuk dicerna dengan akal pikiran, sambil bergumam apakah memang seperti ini jalan hidup.

Dulu melihat seseorang tampil di sebuah media merupakan hal luar biasa sampai-sampai saya melihat mereka bagaikan sebuah harapan baru buat hidup orang banyak, memberikan arahan, masukan bahkan memberikan wajah-wajah cantik dan tampan mereka. Namun kini setelah bergelut begitu lama saya mampu menjadi sebuah wajah lain yang menghiasi media-media tersebut sebuah cinta yang merupakan bahasa dengan bahasa-Nya yang sangat sempurna.

Mungkin sekarang bagi sebagian orang saya sudah berjaya, mungkin bagi masyarakat bisa saja menilai saya seorang selebritas, atau malah banyak yang bilang artis sebuah sebutan yang sampai sekarang risih untuk menyandangnya. Atau mungkin ada saja yang buat sebutan lainnya yang saya tidak bisa sebut itu secara satu persatu.

Namun saya hanya berdoa sama Allah SWT untuk menjadikan saya cahaya sebuah cahaya yang tidak bersinar hanya karena sebuah kesombongan, karena sebuah arogansi, dengan tatapan kejumawaan, dengan sinar kedengkian, saya hanya berdoa semoga saya mendapatkan kedigdayaan yang bersumber dari Allah SWT sehingga kedigdayaan itu bisa digunakan untuk bisa membuat orang lain tenang didekat saya, nyaman ketika mereka bercerita, percaya ketika mereka membutuhkan keyakinan, dan puas saat mereka mendapatkan seluruh jawaban dalam kesulitan mereka.

 









 

© 2008 FeriPurwo.com. All rights reserved. Privacy Policy · Terms of Use